Rabu, 06 November 2013

Semua entri ini diambil dari Senopati Pamungkas, karya Arswendo Atmowiloto

Kasunyatan
456
Dari Nyai Demang kepada Jagattri

Kita adalah wanita. Dilahirkan dengan kodrat sebagai wanita, sangat berbeda dengan kodrat dilahirkan sebagai pria.
Kita hanyalah pendamping, pembantu untuk tuhu, tulus dan setia kepada suami.
Tetapi wanita, tetap saja wanita.
yang langkahnya terhadang keleluasaan kain
yang terikat setagen
Itulah kodrat.
Itulah yang terjadi, betapapun kita menolak dan ingin benar mengubahnya
Setiap zaman mengalami kemajuan, mengalami perubahan yang mencengangkan, Akan tetapi kodrat wanita selalu menyertai, membatasi ataupun membahagiakan.
Tinggal bagaimana kita menerima
Dengan kearifan wanita, kita bisa membaca ilmu kasunyatan, ilmu mengenali kenyataan yang sebenarnya, kenyataan yang setiap harinya kita alami.


Permaisuri Tribhuana kepada Gayatri

Ada yang lebih penting dari urusan daya asmara.
Berkali-kali terbukti, daya asmara bisa diundurkan ke belakang. Bahagia dan bukan bahagia, bukan semata-mata dari ukuran daya asmara dalam arti memiliki atau tidak memiliki.
Bagaimanapun, kamu harus membayangkan Adimas Upasara bahagia.
Dengan begitu, kamu juga akan bahagia.

Gaytri
Prameswari
Pertama-tama, saya adalah Permaisuri.
Batin saya telah mengalami pertarungab. Letih. Tetapi tidak kalah.
Saya dilahirkan dan dididik untuk menjadi permaisuri.
itulah ajaran yang pertama dan satu-satunya

Di atas itu semua, saya merasa saya yang tetap memiliki asmara Kakangmas Upasara yang paling tulus dan murni
Tapi saya keliru
Daya asmara yang sengaja saya simpang, saya kenang hanya memberati. Hanya mengganggu perjalanannya saja.
Saya rila

Permaisuri Tribhuana

Ada sesuatu yang harus kita lepaskan, 
Masa lalu
Ada sesuatu yang harus kita hadapi, 
Masa sekarang
Ada sesuatu yang harus kita jalani,
Masa depan, 
Betapapun manis atau menyakitkan.

Lila Legawa
Permaisuri Tribhuana pada Upasara

Lepaskan yang memberati. Lupakan dari dasar hati.
Kerelaan adalah pemberian, Pengorbanan yang pasrah, tulus dan sedalam-dalamnya.

Justru kenangan, sisa yang masih ada tanpa bekas, 
harus direlakan

Lila.
Kelegaan itu sesuatu yang indah, yang membahagiakan
Bagi yang memberi
Bagi yang diberi
Ketulusan yang indah ketika memberikan


Percakapan perjodohan
501
Upasara dan Jagattri

" Sebenarnya untuk apa kita bersama-sama, Kakang? "
" Tidak untuk apa-apa. "
" Untuk bersama-sama, Untuk kodrat yang kita alami, kita jalani. Untuk jodoh. Untuk mengakui bahwa ada Dewa Yang Mahadewa..."
" Kakang, apakah jalan yang kita tempuh ini benar adanya? "
" Benar atau tidak benar, bukan pertanyaan, dan tidak memerlukan jawaban.
" Kita akan menjalani. "
Gendhuk Tri melangkah.
Tertahan.
Karena tangan Upasara meraup selendang Gendhuk Tri.
" Apakah jawabannya harus sekarang?"
"Ya.
" Karena sejak bertemu sudah cukup waktu untuk berpikir,"
Gendhuk Tri menggeleng.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar