Selasa, 20 Agustus 2013

What is it in a name?

What is in a name? that which we call a rose
By any other name would smell as sweet
Call me but love, and I'll be new baptized;
By a name
I know not how to tell you who I am;
My name, dear saint, is hateful to myself,
Because it is an enemy to you;
Had I it written, I would tear the word.     

( Romeo and Juliet, Act 2, Scene 2)

Apalah arti sebuah nama? Sebuah panggilan kah? Banyak orang mengatakan bahwa nama itu adalah sebuah doa. Apapun itu, dari dulu saya selalu tertarik dengan nama. Oleh karena itu, saya memulai blog saya dengan sejarah nama saya.

Nama lengkap yang tertera dalam akte saya adalah Fransiska Herdita Parmita' Swari.
Nama yang cukup panjang, bahkan bagi orang Indonesia.
Lalu, apa arti nama saya?

Pertama, Fransiska.
Oke, itu nama babtis saya. Asalnya dari mana, mungkin dari Santo Fransiskus. Itu tebakan pertama saya. Tapi ternyata, bukan.
Fransiska itu berasal dari 'Badai Pasti Berlalu'.
Sebuah novel/film yang sangat hits di tahun 79-80 mungkin. Yang jelas, tokoh utamanya bernama Fransiska, nama panggilan Siska. Dimainkan dengan sangat indah oleh Christine Hakim. Jadi, Mama ingin, kalau anaknya lahir perempuan, namanya Fransiska.

Lalu, Herdita.
Saya sih tidak begitu paham dengan bagian kedua dari nama saya ini. Tidak begitu banyak cerita. Tidak begitu banyak saya pertanyakan ('till 30 yrs). Saya hanya mengasumsikan bahwa nama ini berasal dari  nama Papa.

Parmita'Swari
Nah, ini bagian sulitnya. Kadang,saya juga bingung apakah nama saya ini berasal dari satu nama saja,Prameswari. Ataukah dari awal memang sudah di desain menjadi 2 nama, Paramita dan Iswari. Lalu, kenapa juga harus ada koma di atas,yang fyi,kadang-kadang membuat masalah saat membuat/ mengurus dokumen resmi.
Teori pertama, nama saya berasal dari Prameswari, berarti Ratu,Permaisuri.
Terori kedua, berasal dari Paramita dan Iswari.
Paramita, bisa berasal dari Pradnya Paramita. Ken Dedes dalam cerita sejarah. Yaitu, wanita keturunannya akan menjadi raja.
Iswari, berati Bidadari, Putri dari langit, Malaikat, Anak Perempuan Tuhan.
Lalu kenapa ada koma, saya pernah bertanya dan Papa menjawab bahwa itu supaya artistik dan tampil beda. Hadeh....

What's my nickname?

Saat saya masih kecil, semua orang memanggil saya Kaka. Baru setelah saya TK, saya tahu bahwa nama panggilan saya Siska. Tapi, otomatis hanya teman-teman dan guru-guru saya yang memanggil saya begitu. Karena di rumah, Papa - Mama memanggil saya Kaka. Adik dan pembantu saya panggil Mbak. Simbah, Budhe, Pakdhe, Bulik, Om, Sepupu semua memanggil saya Kaka.

Sampai saya SMA. Dari TK sampai saya SMP, saya belajar di Sekolah Katolik. Jadi, nama babtis memang selalu tercantum. Saat saya masuk SMA negeri, entah kenapa, saya mulai menyingkat nama babtis saya. Jadi saya selalu menulis F. Herdita Parmita'Swari. Saya masih dipanggil Siska oleh teman-teman, karena saya mengenalkan diri sebagai Siska.
Tapi guru-guru saya mulai memanggil saya Herdita. Ya, .... akhirnya saya mulai mendengar orang memanggil saya dengan nama Herdita.

Lalu saya masuk perguruan tinggi. Awalnya, saya mengenalkan diri sebagai Siska. Lalu, ternyata ada Fransiska lain di fakultas. Dan dia sudah mendaftarkan diri sebagai Siska duluan. Dan nama Fransiska nya tidak disingkat sebagai F saja. Jadi, dia mendapat hak sebagai Siska duluan. Jadi, saya kembali lagi sebagai Herdita. Malah akhirnya disingkat lagi menjadi Dita. Dan nama itu bertahan sampai akhir kuliah.

Setelah lulus kuliah, saya melamar dan mengikuti proses training menjadi guru Bahasa Inggris. Dalam proses itu, saya kembali ke selera asal dengan mengenalkan diri sebagai Siska. Dan proses itu berlanjut sampai saya harus mengikuti proses training selama lebih kurang 2 bulan. Dan saat dimulai proses training dan perkenalan diri, saya memperkenalkan diri sebagai Dita lagi. Jadi, mulai saat itu, nama resmi saya dalam dunia kerja adalah Miss Dita.

Paraf saya
bagi yang sering melihat, di paraf saya tertulis 'dhita'.
Buat semua orang, itu karena nama panggilan saya Dita. Lalu, kenapa ada huruf H yang nyempil di situ? Itu bukan typo.
It's my husband's (still boyfriend at that time) name.
Jadi, my husband and I mulai pacaran saat umur 17, kelas 2 SMA. Saat itu, lagi musim menulis inisial gabungan nama. But I didn't really like it, jadi saya tidak pernah membuatnya. Hingga saya kuliah.
Suami saya dan saya kuliah di kota yang berbeda. Long Distance Relationship istilah sekarang. Jaman itu belum secanggih sekarang, sehingga sampai saya lulus kuliah, kita berkomunikasi lewat surat. Setiap mengirim surat, kita harus selalu menulis nama pengirim. Awalnya saya rajin menulis nama dan alamat pengirim. Lama-lama, pengen tampil beda, saya mulai membuat tanda tangan saja. Hingga akhirnya saya menciptakan paraf baru.
Bermula, saya hanya memaraf 'dita' saja. Hingga suatu saat, saya berpikir  'dhita' itu adalah gabungan nama my boyfriend and me, tapi orang tidak bakalan menyadarinya. Akhirnya, mulai dari saat itu, saya memaraf nama saya 'dhita'

Dan kenapa sekarang saya menulis tentang jagaddhita

Suami saya sangat menyukai cerita Senopati Pamungkas nya Arswendo. Saya juga ikut membaca. Pada buku satu, tersebutlah seorang tokoh bernama Jagaddhita. Dia adalah guru pertama Jagattri atau Genduk Tri, istri Upasara. Dia seorang perempuan yang sakti, dengan jurus seperti orang menari menggunakan selendang. Dia dulunya seorang penari utama istana, selir kesayangan raja.
Waktu saya pertama membaca cerita itu, biasa saja. Tapi, entah kenapa, sejak dulu saya tidak begitu suka cerita, baik novel/film, yang menggunakan nama saya/suami. Jadi, awalnya saya tidak begitu suka.
Lalu, teman sekantor saya, mulai mengaitkan saya dengan tokoh itu.
" You are Dhita in the novel. You are also a dancer. Lha, gari kowe selir apa ora?.."
" Pokoke, nek aku maca bab kui, aku mbayangne Jagadhita ki kowe." 
hehehe... ( Pakdhe, I still remember your sentence!)
ya... gitu deh

 Dan terakhir, saya membaca novel itu lagi.Kali ini, saya membaca dengan teliti. Dan saya bertemu dengan Jagaddhita lagi. Bahwa awalnya dia adalah penari utama, lalu naik pangkat dengan menjadi selir kesayangan raja. Betapa hebatnya dia, karena dari penari bisa menjadi selir. Sedang saya membayangkan selir raja itu paling tidak pasti dari kalangan ningrat. Dia hanya orang biasa, menjadi selir, bahkan terfavorit. Mungkin hal itu juga yang membuat banyak pihak iri, sehingga pada suatu malam, seseorang memotong pendek rambutnya. Pada masa itu, penari dengan rambut pendek adalah aib yang tak termaafkan. Lalu, Jagaddhita memutuskan pergi dari keraton, tanpa membawa apa-apa.
Dia pergi ke hutan, berniat bunuh diri. Tapi malah ketemu, diselamatkan dan menjadi murid Mpu Raganata, salah satu guru terkuat di cerita itu.
Pada akhirnya, Jagaddhita mati di terowongan menuju keraton saat menyelamatkan Upasara dan Jagattri.

Kali ini, saya tertarik, sampai browsing dengan nama Jagaddhita. I was amazed. Ternyata, arti nama itu sangat indah buat saya. Prosperity and Happiness for everyone before Moksa.vKebahagiaan dan kesejahteraan di dunia sebelum kita Moksa ( mati dan semoga masuk surga). And that's what I want in my life.

Tujuan agama Hindu yang dirumuskan sejak Weda mulai diwahyukan adalah "Moksartham Jagadhita ya ca iti Dharma", yang artinya bahwa agama (dharma) bertujuan untuk mencapai kebahagiaan rohani dan kesejahteraan hidup jasmani atau kebahagiaan secara lahir dan bathin (Moksa)

Jagaddhita bisa juga dipecah menjadi Jagad dan Dhita. Jagad berarti dunia. Bisa dikata bahwa ini dunia saya.
Jadi, sebagai akhir kata ....

Sugeng Rawuh wonten donya kula
Wilujeng Sumping
Bienvenue a mon monde
Selamat Datang di dunia saya
Welcome to my world

Tidak ada komentar:

Posting Komentar